JAKARTA – Anak motor yang satu ini tergabung dalam komunitas Royal Enfield Tangerang Raya (RETRO), drg. R.M. Norman Tri Kusumo Indro atau yang biasa disapa “Dokman” ternyata lulusan universitas di Jerman yang juga tempat Presiden B.J. Habibie rahimahullah mengenyam pendidikan tentang pesawat terbang.
Selain anak motor, Dokman juga merupakan cicit dari dr. Moewardi rahimahullah, pahlawan nasional yang berprofesi sebagai dokter THT ini namanya juga digunakan sebagai nama Rumah Sakit di Kota Solo. Salah satu hal yang bisa diteladani dari beliau adalah kegigihannya dalam membantu masyarakat miskin pada zamannya. Bahkan atas aktivitasnya tersebut dr. Moewardi dijuliki sebagai Dokter Gembel.
Kata “Dokter Gembel” tersebut kini menjadi sapaan akrab untuk Dokman dari kalangan dokter. Meski tidak secara terang-terangan membantu rakyat miskin seperti zaman dr. Moewardi tapi inspirasi itu melekat pada Dokman. Setidaknya itu hal terjadi pada masa pandemi COVID-19.
drg. Norman ketika pandemi COVID-19 melanda negeri ini. Saat itu dirinya bertugas memberikan pelayanan kepada pasien BPJS yang berobat di RSUD Pesanggrahan. Mengingat kondisi pelayanan tidak seperti biasa alias ada pembatasan untuk bertatap muka, pasien BPJS yang sering ditangani oleh drg. Norman merasa sulit untuk berobat. Lantas dari kondisi seperti itu cicit dr. Moewardi ini mengalihkannya ke klinik praktek perseorangan untuk bisa menjawab keresahan tersebut.

Dokter gigi lulusan program Mastership (bertemakan Laser in Dentistry) yang satu kampus dengan Presiden BJ Habibie di Jerman ini kemudian membuat penyetaraan tarif spesialistik yang meliputi tindakan spesialis periodonsia (misal splinting gigi, kuretase hingga perawatan laser dental) agar terjangkau untuk masyarakat pengguna BPJS.
Upaya penyesuaian tarif ini ia buat agar kesehatan gigi dan mulut dapat dijangkau oleh semua lapisan, termasuk sebagai upaya drg. Norman agar ilmu yang ia dapat di Kampus RWTH Aachen dapat diaplikasikan di tanah kelahirannya. Selain itu,Dokman (Sapaan akrab drg. Norman di kalangan anak motor) juga berpraktik di Klinik Getdentist, Gandaria, Jakarta Selatan.
Aksi Anak Motor dalam Profesi
Dokman pun sedikit menjelaskan kepada redaksi bahwa penggunaan laser dalam bidang kedokteran gigi masih menjadi hal yang tabu di masyarakat Indonesia.
“Laser dalam kedokteran gigi pun masih merupakan hal yang tabu di kalangan masyarakat, hal ini karena masih merupakan hal yang asing dan terlihat mahal. Oleh karena itu ,permasalahannya masyarakat menjadi lebih takut ke dokter gigi karena animo phobia yang mahal. Semoga dengan hadirnya getdentist klinik dapat menjadikan klinik yang bermanfaat bagi semua.” ungkap drg. Norman.

Gummy Smile
Dalam kesempatan yang sama rekan dari Dokman yakni drg. Riko Parlindungan, Sp. perio. memberikan edukasi untuk mengenali gejala Gummy Smile. Permasalahan ini ia sampaikan karena Gummy Smile merupakan satu masalah estetika yang sering ditemukan di tengah masyarakat. Untuk mengenalinya cukup gampang yakni apabila saat Sobat Cekpoin tersenyum lebar dan gusi terlihat mendominasi dari biasanya maka itu adalah Gummy Smile.
Gusi dengan masalah seperti ini biasanya terekspose lebih dari 3-4 mm saat tersenyum lebar. Meski tidak berbahaya dan bukan termasuk sebuah penyakit namun tidak sedikit masyarakat yang mengeluhkan kondisi ini, karena dianggap mengganggu estetika.

“Adapun indikasi penyebab Gummy Smile ini adalah panjang bibir yang terlalu pendek, aktivitas bibir yang hiperaktif, dan mahkota gigi klinis yang pendek. Untuk penanganannya perlu dilakukan pemeriksaan yang komprehensif, bahkan pada kasus berat diperlukan kerja sama antara ahli bedah mulut, orthodonsia,dan periodonsia.” ungkap drg. Riko yang praktek di Klinik Utama Getdentist Jakarta.
Tren Reposisi Bibir
Berbicara masalah kesehatan gigi dan mulut tidak selalu dilihat dari sisi medis melainkan dapat juga dijadikan sebagai tren yang akan mendongkrak penampilan. Hal seperti ini banyak ditemukan oleh drg. Riko salah satunya reposisi bibir yang digandrungi oleh kaum hawa. Pasiennya pun mulai dari kalangan artis hingga selebgram.
Reposisi bibir ini dilakukan untuk mencegah otot-otot elevator yang terletak di area bibir dan hidung yang mengangkat bibir atas terlalu tinggi dari gigi. Bahkan menurut tinjauan ilmiah pada tahun 1997 dari Journal of Indian Society of Periodontology, pasien yang menjalani prosedur ini masih senang dengan hasilnya selama dua tahu pasca operasi. Untuk banyak kasus, hasil reposisi ini permanen tapi tetap sewaktu-waktu bisa kambuh.
“Gummy Smile ini meskipun terkesan tidak berbahaya namun untuk tindakan koreksi estetikanya harus dilakukan oleh tenaga medis profesional. Tujuannya adalah agar sebisa mungkin menghindari terjadinya human error.” tutup drg. Riko. ##